Misteri Gunung Buthak
Saat aku naik gunung Butak dan sampai disabana untuk mendirikan tenda. Setelah tenda siap dihuni. Kita sholat dan bersih2 pakek tissue basah. Kita mengisi tenaga dengan amunisi karbohidrat. Menghangatkan hati dengan kopi hangat *eak*
Karena orangnya 5, kita tidur ngadepnya gak kayak biasanya. Sebisa mungkin tendanya cukup. Jadi formasinya pintu tenda, mas Win, Unyil, Ucil, Dhita dan aku. Alhasil aku yang cewe sendirian akhirnya nyungsep dipojokan -_-. Jadi kalo mau pipis keluar tenda aku harus ngeloncatin mereka heuheuuu. Sekitar jam 21.00 mas Win udah tewas duluan. Sedangkan kita berempat masih ngeciwis sana sini sambil tiduran, karena kalo sambil dudukan tendanya kagak cukup heuheuuuu. Alunan dialog dini hari menemani malam yang amat sunyi. Ini bener-bener gunung perawan. Baru kali ini ngecamp kagak ada tetangganya. Sedangkan di luar suara anginnya kuenceeeng banget. Kita sampek merinding disko dibuatnya.
Kira-kira pukul 01.30 aku kebangun. Matiin playlist dialog dini harinya. Para pemuda abal-abal udah tewas nyampek everest kayaknya. Aku kembali tidur. Sebelum benar benar terlelap tiba-tiba aku ngerasa ada rombongan yang datang ke arah tenda. Karena posisiku yang nyungsep banget di pojokan dan Dhita kalo tidur gak karuan, akhirnya tanganku keinjek kaki rombongan yang lewat di sebelah tenda. Karena udah ngantuk banget, aku gak ngegubris dan kembali tidur.
Keesokan harinya si Unyil berdongeng. Dia mimpi, seorang kakek-kakek berjenggot putih dateng ke tenda. Kakek tadi bilang “ojok ngomong asa asu ae le, ndek kene iki enek asu ghaib picek njogo gunung iki”. Yang artinya “jangan bicara anjing nak, di sini ada anjing buta ghaib penunggu gunung ini”. Sontak kita semua diam tanpa kata. Secara sepanjang jalur mulut kita gak sopan ngets ngengs. Aku inget kejadian semalem. Aku cerita dan mereka gak ngerasa ada rombongan lewat. Aku mulai ngerasa ada yang ganjil dari perjalanan kali ini.
Jam 04.00 kita siap-siap summit. Sebelumnya kita mengisi sedikit karbohidrat dan minuman hangat. 5menit berlalu kita berjalan dan…. taraaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa, sabana ada di depan pandangan. Anjiiiiiiirrrrrrrrrrrrrrrr, ini yang semalem kita cari-cari. Pantesan aja kemaren malem suara anginnya kenceng banget. Bener-bener zonk. Yawlaaaaaaaaa jalan cuma 5 menit udah nyampek ternyata. Kita sama-sama tepuk jidat ngeliat luasnya sabana yang item bekas kebakar. 10 menit berjalan kita nemuin mata air. Setelah kita melewati satu bukit kecil yang kayaknya jalur ke puncak eh kita malah nemuin pondok. Selain ada pondok ada pohon yang disarungin kain putih dan dikelilingin dupa. Hawa mistis tiba-tiba menyeruak. Keinget rombongan pendaki yang nginjek tangan dan mimpinya si Unyil. Tanpa pikir panjang aku langsung balik kanan. Begitupun teman-teman yang lain.
Kita cari lagi jalur puncak yang bener. Edelweiss di kanan-kiri. Edelweiss gosong lebih tepatnya -_-. Setelah beberapa menit berjalan kita malah nemuin jejak anjing. Anjiiiiirrr langsung kepikiran mimpinya si Unyil. Karena dari awal jalan kita gak papasan sama anjing. Papapasannya sama monyet. Ah mungkin ini jejak monyet yang mirip anjing -_-. Atau anjing ghaib penunggu gunung Butak? Wes wes gausah dibahas gengs. Merindings!

Setelah 1 jam an melewati tanjakan, sampailah kita di 2868mdpl. Sumpah kuereeeeeeeeeeeen. Maha Besar Allah menciptakan alam semesta ini.

Mungkin Tuhan sedang berbahagia ketika menciptakan Indonesia.

Gunung kelud terlihat kecil banget dari atas sini. Di Puncak kita ketemu sama satu rombongan berjumlah 5 orang. Naaahhh, ini dia mereka yang nginjek tanganku semalem. Setelah ngobrol kesana kemari ternyata mereka lewat jalur Blitar. Jadi yang semalem siapa dong? Ah sudahlah……..

Beberapa minggu kemudian waktu kopdar, ada senior cerita tentang gunung Butak. Ceritanya sama puersis sama pengalaman para abal-abal
“Gunung Butak itu mistisnya 11 12 sama Gunung Argopuro. Pernah waktu mendaki Butak saya ketemu sama anak Blitar. Anak ini agak beda. Sepertinya punya indra ke-6. Kita ngobrol-ngobrol. Katanya Gunung Butak ini dijaga oleh anjing hitam yang sebelah matanya buta. Dan jangan sesekali camp di sabana. Jika beruntung, kita akan melihat seorang pertapa yang terbang di tengah sabana”
Setelah dapet cerita kayak gitu, sontak merindingnya sampe bulu-bulu di telinga. Mungkin Tuhan melindungi kita dengan cara gagalnya ngecamp di sabana. Mungkin. Pendakian kali ini ngajarin kalo di gunung gak boleh sembarangan ngomong. Ucapan emang harus dijaga dimanapun. Gak hanya digunung aja gengs.
Komentar
Posting Komentar